
Tidak semua prestasi lahir dari ambisi besar yang sudah direncanakan sejak awal. Kadang, justru dari hal-hal kecil yang tampaknya sepele, seperti rasa penasaran, dorongan iseng, atau bahkan sekadar tidak ingin ketinggalan, sebuah perjalanan yang mengubah hidup bisa dimulai. Itulah yang dialami oleh Fadhil, mahasiswa Aktuaria yang berhasil membawa pulang Juara 2 di ajang bergengsi Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) History Fair Universitas Indonesia tingkat nasional
Kisahnya tidak dimulai dari laboratorium riset atau bimbingan intensif seorang mentor. Melainkan dari sesuatu yang jauh
lebih manusiawi: rasa FOMO. Namun di balik awal yang sederhana itu, tersimpan ketekunan, keberanian, dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Berikut perjalanan lengkap Fadhil sebagaimana ia ceritakan sendiri.
Bukan dari Dunia Lomba: Latar Belakang Fadhil Sebelum Kuliah
Jika sebagian besar peserta lomba nasional sudah terbiasa dengan sirkuit kompetisi akademik sejak SMA, Fadhil adalah pengecualian yang menarik. Ia sama sekali tidak memiliki rekam jejak di dunia kepenulisan ilmiah sebelum masuk kuliah. Satu-satunya pengalaman kompetisi yang pernah ia coba semasa sekolah hanyalah lomba pidato, yang pun masih cukup jauh dari dunia karya tulis ilmiah.
Jadi ketika dunia LKTI dan kompetisi akademik mulai menghampirinya di bangku perkuliahan, Fadhil benar-benar memulai dari titik nol. Tidak ada modal pengalaman, tidak ada mentor dari sekolah, dan tidak ada peta jalan yang jelas tentang harus mulai dari mana.
Yang ada hanya keberanian untuk mencoba, meskipun alasan di balik keberanian itu awalnya cukup menggelitik untuk diakui.
“Waktu SMA dulu aku cuma pernah coba-coba ikut lomba pidato aja, jadi dunia kepenulisan ilmiah atau kompetisi akademik kayak gini bener-bener baru buat aku.” — Fadhil
Motivasi yang Jujur: Ketika FOMO Jadi Bahan Bakar
Fadhil tidak mencoba menyembunyikan motivasi awalnya. Dengan nada santai dan jujur, ia mengaku bahwa dorongan pertamanya untuk terjun ke dunia lomba bukanlah karena cita-cita akademis yang muluk-muluk, melainkan karena ingin mengesankan seseorang yang ia kagumi.
Orang tersebut adalah seseorang yang dikenal aktif dan rajin mengikuti berbagai lomba. Melihat hal itu, Fadhil merasakan campuran antara kagum dan tidak mau kalah, sebuah perasaan yang oleh generasi sekarang sering disebut sebagai FOMO atau fear of missing out. Ia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia pun mampu melakukan hal yang sama.
“Awalnya aku ikut itu pure karena iseng, dan waktu itu aku lagi pengen nge-impress seseorang aja, sih… Dari modal fomo itulah akhirnya keterusan sampai sekarang, hahaha.” — Fadhil
Yang menarik dari cerita ini adalah bagaimana motivasi yang tampaknya kecil dan tidak serius itu justru menjadi titik awal yang mengantarkannya ke panggung kompetisi nasional. Ini sekaligus menjadi pengingat bahwa alasan seseorang memulai sesuatu tidak selalu harus besar dan heroik. Yang terpenting adalah apa yang dilakukan setelahnya.
LKTI History Fair UI: Kompetisi Nasional Pertama yang Bersejarah
Lomba yang menjadi tonggak penting dalam perjalanan Fadhil adalah Lomba Karya Tulis Ilmiah History Fair, sebuah kompetisi yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia. Bukan sembarang kompetisi, karena ajang ini berskala nasional dengan peserta yang datang dari berbagai universitas di seluruh Indonesia, menjadikannya arena persaingan yang sesungguhnya antara mahasiswa-mahasiswa terbaik dari berbagai penjuru negeri.
Dalam kompetisi ini, Fadhil tidak bertarung seorang diri. Ia berkompetisi bersama tim, sebuah pengalaman yang nantinya juga menjadi pelajaran penting tentang pentingnya kolaborasi dan sinergi antar anggota dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Tantangan Ganda: Belajar dari Nol di Dua Medan Sekaligus
Proses persiapan menuju hari-H kompetisi bukanlah perjalanan yang mudah bagi Fadhil. Ia harus menghadapi tantangan yang berlipat ganda, bukan hanya satu.
Tantangan pertama datang dari dalam kompetisi itu sendiri. Karena ini adalah lomba pertamanya, Fadhil benar-benar harus meraba-raba dari nol. Tidak ada pengalaman sebelumnya yang bisa dijadikan acuan tentang bagaimana cara menyusun karya tulis ilmiah yang baik, bagaimana struktur argumen yang kuat, atau bagaimana cara menyajikan ide secara sistematis dan meyakinkan di hadapan dewan juri.
Tantangan kedua datang dari aspek substansi keilmuan. Topik yang diangkat dalam lomba tersebut sama sekali tidak linear dengan bidang studi yang sedang Fadhil tekuni, yaitu Aktuaria. Jurusan Aktuaria identik dengan matematika, statistika, dan ilmu keuangan, sangat jauh dari rumpun ilmu yang dibutuhkan dalam lomba berbasis sejarah ini. Artinya, selain harus belajar teknis penulisan ilmiah dari awal, Fadhil juga harus mendalami materi dari disiplin ilmu yang asing baginya.
“Effort-nya double; di satu sisi aku harus pusing sama tugas-tugas kuliah Aktuaria yang hitungannya lumayan padat, di sisi lain aku harus banyak belajar lagi dari dasar…” — Fadhil
Di tengah semua tekanan itu, Fadhil tetap harus menjalankan kewajiban akademisnya sebagai mahasiswa Aktuaria yang terkenal dengan beban studi yang cukup padat. Ia harus pandai membagi waktu dan sesering mungkin melakukan switching fokus antara dunia angka dan dunia narasi ilmiah yang sangat berbeda karakternya.
Hari-H di UI: Mengobati Impian yang Dulu Belum Kesampaian
Jika proses persiapan adalah bagian yang penuh perjuangan, maka hari pelaksanaan kompetisi menjadi bagian yang paling membekas dan emosional bagi Fadhil. Momen paling berkesan baginya bukan sekadar tentang menang atau kalah, melainkan tentang kesempatan untuk menginjakkan kaki langsung di kampus Universitas Indonesia.

Fadhil mengakui bahwa UI pernah menjadi impian yang tidak kesampaian. Ada masa di mana ia berharap bisa menjadi bagian dari kampus bergengsi itu, namun takdir membawanya ke jalur yang berbeda. Ketika akhirnya kesempatan untuk hadir di UI datang melalui jalur kompetisi ini, momen itu membawa resonansi emosional yang jauh lebih dalam dari sekadar urusan lomba semata.
Dan kemudian, hal yang tidak terbayangkan sebelumnya pun terjadi. Tim Fadhil berhasil meraih Juara 2 dalam kompetisi nasional tersebut. Sebuah pencapaian yang bukan hanya menjadi kebanggaan akademis, tetapi juga menjadi semacam penutup yang manis untuk sebuah
impian lama yang belum pernah tuntas.
“Kemenangan itu kayak jadi obat penawar tersendiri buat mengobati keinginan masa lalu yang sempat enggak kesampaian. Rasanya glorious dan bikin bangga banget.” — Fadhil
Pesan untuk Adik Tingkat: Dua Hal yang Paling Penting
Ketika ditanya tentang pesan yang ingin ia sampaikan kepada adik-adik tingkat yang masih ragu untuk terjun ke dunia kompetisi, Fadhil tidak memberikan jawaban yang klise. Ia langsung pada dua poin konkret yang menurutnya paling berdampak.
1. Berani Mencoba Lebih Dulu
Fadhil menekankan bahwa keberanian untuk mencoba adalah modal yang paling utama dan tidak bisa digantikan oleh apapun. Overthinking dan ketakutan akan kegagalan adalah dua hal yang paling sering menghambat seseorang bahkan sebelum mereka benar-benar memulai. Padahal, tanpa pernah mencoba, kita tidak akan pernah tahu sebenarnya sejauh mana kemampuan diri kita bisa menjangkau.
Ia berbicara dari pengalaman nyata. Dirinya sendiri memulai dari ketidaktahuan total, namun justru dari situlah ia belajar paling banyak. Kegagalan pun, jika terjadi, akan menjadi guru yang jauh lebih berharga dibandingkan sekadar membaca buku atau menonton tutorial dari pinggir lapangan.
2. Perbanyak Relasi Lintas Disiplin Ilmu
Poin kedua yang sangat Fadhil tekankan adalah pentingnya membangun relasi pertemanan yang melampaui batas jurusan. Banyak mahasiswa yang cenderung hanya
bergaul dan setim dengan teman-teman dari jurusan yang sama, padahal justru di sinilah peluang besar sering terlewatkan.
Ketika kita bersedia membuka diri untuk berkolaborasi dengan orang-orang dari disiplin ilmu yang berbeda, kita akan mendapatkan sudut pandang yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Seseorang dari jurusan Sejarah mungkin punya cara membaca konteks yang sangat berbeda dari seseorang dari jurusan Teknik atau Ekonomi. Dan ketika perspektif-perspektif yang beragam itu bertemu dalam satu tim, hasilnya sering jauh lebih kaya, lebih kreatif, dan lebih matang dibandingkan jika semua anggota tim berpikir dengan cara yang sama.
“Dengan memperbanyak relasi lintas disiplin ilmu, kita bisa dapat banyak banget insight baru dari orang-orang dengan latar belakang ilmu yang berbeda.” — Fadhil
Penutup: Ketika FOMO Berbuah Prestasi
Perjalanan Fadhil adalah bukti nyata bahwa titik awal seseorang tidak menentukan seberapa jauh ia bisa melangkah. Ia memulai dari tidak ada pengalaman sama sekali, dengan motivasi yang awalnya lebih bersifat personal dan emosional daripada akademis, di medan yang sama sekali asing dari jurusannya. Namun pada akhirnya, ia berhasil berdiri di podium Juara 2 kompetisi ilmiah nasional bergengsi.
Yang lebih penting dari trofi atau sertifikat, Fadhil pulang dengan sesuatu yang jauh lebih berharga: keberanian yang sudah teruji, jaringan yang lebih luas, dan kepercayaan diri bahwa ia mampu belajar dan tumbuh di luar zona nyamannya. Dan semua itu bermula dari rasa FOMO yang sederhana, yang akhirnya ia ubah menjadi sebuah petualangan akademis yang benar-benar bermakna.




