Perjalanan Charles Joshua Bersama Tim SPDC Menuju JDCI 2025

Kabar bahagia terdengar dari seorang mahasiswa Program Studi Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran, Charles Joshua Nathaniel Waruwu. Ketekunannya dalam menyeimbangkan akademik dengan bakat seni kini membuahkan hasil manis. Bersama tim SPDC, Charles berhasil menorehkan prestasi pada ajang bergengsi Jakarta Drum Corps International atau JDCI 2025.

Terdapat total delapan penghargaan dari berbagai kategori yang mereka raih, di antaranya:

  • 1st The Best Music, 1st The Best Brass, dan 1st The Best Drum Major
  • 2nd Place Open Class Drum Corps, 2nd The Best Color Guard, dan 2nd The Best Visual
  • 3rd The Best Percussion serta 3rd The Best General Effect

Pencapaian gemilang di panggung internasional ini tentu tidak diraih dalam semalam. Charles beserta tim SPDC harus melalui perjalanan panjang yang penuh dengan dedikasi dan kerja keras untuk latihan.

Langkah Awal Bergabung dengan Symphony Padjadjaran Drum Corps (SPDC)

Langkah Charles menuju panggung JDCI bermula dari statusnya sebagai anggota aktif di unit orkestra UNPAD. Pada saat itu, SPDC memberikan penawaran bagi anggota orkestra yang berminat bergabung dalam lomba marching band skala internasional sebagai pemain synthesizer. Charles yang merasa tertarik langsung memberanikan diri untuk mengambil peluang tersebut dan menghubungi pihak SPDC.

Setelah mendaftarkan diri, Charles harus melalui proses seleksi terlebih dahulu yang ditujukan untuk menguji kemampuan Charles. Menariknya, pelatih SPDC langsung menyatakan ia lolos setelah membawakan melodi klasik “Fur Elise” karya Beethoven sebagai lagu bebas.

Sesaat Charles resmi bergabung, ia pun dibekali berbagai informasi mengenai peraturan tim. Sebagai seseorang yang pertama kali terjun di dunia marching band, Charles mengaku sempat merasa canggung karena hanya bermodalkan kemampuan membaca not balok tanpa mengetahui dasar-dasar marching band. Namun dengan berjalannya waktu, tim semakin merangkul erat satu sama lain hingga membuatnya cepat beradaptasi.

Ditempa Persiapan Berat dan Evaluasi Panggung Pertama

Ketika mahasiswa lain pulang kembali ke rumahnya masing-masing, Charles harus menetap di Jatinangor untuk mengikuti karantina latihan selama dua minggu penuh waktu liburan. “Jujur banyak progress sih, banyak capeknya juga. Tapi tetep enjoyable karena bisa semakin deket sama temen-temen dan pelatih.” Tuturnya.

Segala persiapan keras itu kemudian bermuara pada kompetisi perdana mereka, World Association of Marching Show Bands (WAMSB). Bagi Charles, perjalanan mendekati hari perlombaan cukup berliku. Akibat kurangnya persiapan, timbul kendala teknis pada alat elektronik. Namun beruntung masalah tersebut bisa segera diatasi.

Tantangan yang sesungguhnya justru muncul di babak preliminary, ketika timbul kesalahan fatal tengah perlombaan. Kekeliruan itu perlahan menggerogoti pikiran Charles hingga ia nyaris kehilangan kepercayaan dirinya. Namun berkat dukungan dari teman-teman setimnya, Charles berhasil memberikan penampilan secara maksimal sampai babak final.

Sayangnya, jerih payah tidak sesuai dengan harapan di kompetisi perdana mereka. Pada hari pengumuman, tim SPDC belum dapat membawa pulang piala kemenangan. Alih-alih tenggelam dalam keterpurukan, Charles memilih untuk menjadikannya sebagai pengalaman berharga karena dari sanalah ia mendapatkan banyak teman, ilmu, serta wawasan baru.

Menebus Kekalahan: Kemenangan Manis di Panggung Kedua

Kekalahan di panggung pertama tidak mengakhiri api semangat Charles dan tim SPDC. Bahkan, hadir ide spontan yang berasal dari salah seorang temannya untuk kembali berlomba pada bulan Desember, JDCI 2025. Awalnya tebersit keraguan dalam pikiran Charles setelah melihat jadwalnya berbenturan dengan agenda latihan orkestra, tetapi setelah melewati diskusi panjang dengan sang pelatih, Charles memantapkan hatinya untuk ikut berlomba kembali.

Proses latihan menuju kompetisi berjalan secara ketat dan disiplin. Mulai dari latihan reguler setiap malam, hingga latihan full-day di hari Sabtu.

Menurut Charles, bagian tersulit terletak pada tuntutan untuk menghafal materi musik, gerakan, sekaligus melakukan detailing dalam satu waktu yang sama. Sebagai pemain instrumen elektronik, energinya sangat terkuras akibat mengurusi kerumitan instalasi kabel yang membutuhkan banyak waktu. Untungnya, kelelahan itu lambat laun terkikis oleh kebersamaan dan kehangatan dalam tim.

Puncaknya, seluruh perjuangan keras mereka akhirnya terbayar lunas di ajang Jakarta Drum Corps International (JDCI) 2025. Dari yang sebelumnya harus pulang dengan tangan kosong, SPDC Unpad sukses membuat kejutan besar dengan memboyong delapan piala sekaligus.

Strategi Manajemen Waktu

Rutinitas latihan yang sangat padat menuju kompetisi menuntut Charles untuk memiliki kemampuan manajemen waktu yang luar biasa. Sebagai mahasiswa Statistika, Charles membagikan rahasia di balik keseimbangan jadwalnya, yakni dengan skala prioritas. Biasanya, jika terdapat tenggat waktu proyek kuliah yang mendesak, ia akan memprioritaskannya terlebih dahulu sebelum mengejar materi marching band secara mandiri.

Di sisi lain, pada hari-hari biasa, Charles berusaha menyeimbangkan kegiatannya dengan mendahulukan latihan orkestra terlebih dahulu sebelum berlanjut ke sesi latihan lainnya. Kebiasaan tersebut membantu Charles menjaga konsistensi tanpa harus mengorbankan salah satu minatnya.

Pesan Untuk Mahasiswa Lain

Pada akhir wawancara, Charles menitipkan satu pesan penutup bagi mereka yang berniat mengeksplorasi bidangnya di masa perkuliahan. Beliau menegaskan agar para mahasiswa berani mencari berbagai kesempatan di luar zona nyaman. Terutama, karena hal tersebut dapat menjadi pelarian positif dari kejenuhan akademik, meskipun hasilnya kelak tidak sesuai harapan.

“Kalo dari temen-temen ada yang mau eksplorasi di bidang apapun yang disukai, jangan ragu-ragu buat ngambil! Nggak harus langsung jago, yang penting mau belajar dan komitmen sama apa yang mau diraih.”

Selain itu, Charles juga menambahkan untuk tidak fokus membandingkan proses dengan orang lain dalam prosesnya. “Everyone’s journey is different, and that’s okay. Manfaatin masa kuliah sebaik mungkin karena hari ini adalah kesempatan kalian mengeksplorasi bidang yang diminati.”

Keberhasilan Charles beserta tim SPDC dalam meraih berbagai penghargaan di panggung JDCI 2025 menunjukkan kalau keberanian untuk belajar dan berkomitmen penuh pada minat dapat membuahkan hasil yang luar biasa. Pada akhirnya, prestasi gemilang ini menjadi bukti nyata bahwa eksplorasi di luar zona nyaman mampu mengubah pelarian dari kejenuhan akademik menjadi jalan untuk memaksimalkan potensi diri.

Penulis: Yasmina Alia Suryantoro