

Garut – Stunting masih menjadi tantangan kesehatan serius di berbagai daerah, tak terkecuali Desa Wanajaya, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Pada 2025, angka stunting di desa ini mencapai 22,4%, angka yang tergolong tinggi jika dibandingkan dengan desa-desa sekitarnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, Puskesmas Wanaraja dan Perangkat Desa Wanajaya berkolaborasi dengan Tim KKN Universitas Padjadjaran (Unpad) Kelompok 38 dibawah bimbingan Dr. Mia Uswatun Hasanah dari Program Studi Geofisika FMIPA meluncurkan program inovatif SACANGKIR KOPI (Sayangi Anak, Cegah Stunting, Kurangi Rokok per Batang Sehari).
Program ini mengajak para kepala keluarga untuk mengurangi konsumsi rokok minimal satu batang setiap hari. Uang yang disisihkan dari pembelian satu batang rokok tersebut senilai Rp2.000, kemudian dimasukkan ke dalam celengan khusus. Tabungan ini nantinya dialokasikan untuk membeli makanan bergizi demi menunjang tumbuh kembang anak sekaligus mencegah stunting.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (25/7/2026) ini diawali dengan lomba mewarnai bergizi yang diikuti sekitar 85 anak. Mengangkat tema makanan sehat, lomba ini menjadi media edukasi nonformal agar anak-anak mengenal jenis-jenis nutrisi yang dibutuhkan tubuh sejak dini. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 25 Juli 2026 ini diawali dengan lomba mewarnai dan diikuti sekitar 85 anak. Mengangkat tema makanan bergizi, lomba ini menjadi media edukasi nonformal agar anak-anak lebih mengenal berbagai jenis makanan sehat yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyuluhan kesehatan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Wanaraja, Wiwin Winiarsyarah. Acara ini turut dihadiri Camat Wanaraja Fahmi Fauzi, Kepala Desa Wanajaya Iif Firman Nurdin, serta puluhan warga setempat. Materi difokuskan pada pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi ibu hamil, balita, dan anak-anak. “Jadi bapak-bapak dan ibu-ibu, saat menyiapkan porsi makanan, perhatikan isinya. Pastikan ada protein hewani, sayur, dan buah. Pola makan yang baik sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan kita,” ujar Wiwin.
Selaras dengan pematerian dari Puskesmas, mahasiswa KKN Unpad turut memberikan edukasi mengenai stunting dan Gerakan Tutup Mulut (GTM). Dalam sesi ini, mahasiswa membagikan sejumlah tips praktis untuk mengatasi anak yang sulit makan. Materi disampaikan secara interaktif melalui sesi tanya jawab dan kuis berhadiah, sehingga memicu antusiasme peserta.
Salah seorang warga mengaku sosialisasi ini sangat membantu meningkatkan pemahamannya terkait tumbuh kembang anak. Menurutnya, edukasi semacam ini penting untuk terus dilakukan.
“Materinya mudah dipahami, jadi sekarang saya lebih tahu makanan apa saja yang baik untuk anak,” ungkap Siti, salah satu peserta sosialisasi.
Salah seorang warga mengaku kegiatan sosialisasi tersebut membantunya memahami pentingnya pemenuhan gizi dan tumbuh kembang anak. Menurutnya, kegiatan serupa perlu diselenggarakan karena memberikan wawasan baru, khususnya bagi para orang tua. “Materinya mudah dipahami, jadi sekarang saya lebih tahu makanan yang baik untuk anak,” ujar Siti, salah satu peserta sosialisasi.
Antusiasme warga tidak berhenti pada sesi edukasi. Usai penyerahan hadiah bagi pemenang lomba mewarnai, masyarakat diajak menikmati Wanajaya Night Market yang melibatkan 15 pelaku UMKM lokal.
Beragam produk dipasarkan dalam bazar tersebut, mulai dari kuliner tradisional, jajanan modern, hingga kebutuhan pokok rumah tangga sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi warga. Melalui kolaborasi antara elemen masyarakat, akademisi, dan pemerintah daerah, program SACANGKIR KOPI tak hanya menjadi sarana pencegahan stunting, tetapi juga wadah untuk memperkuat partisipasi publik dan menggerakkan ekonomi lokal.




