ADA FENOMENA PENURUNAN KASUS COVID-19 MINGGU KEMARIN
Oleh: Yuyun Hidayat, PhD
Dosen Departemen Statistika Fmipa-Unpad
Bagaimana posisi Indonesia di Asia dari sisi total kasus yang dikonfirmasi ? berdasarkan hasil observasi penulis terhadap data yang dipublikasikan oleh Worldometer sampai tanggal 6 Februari 2021, diperoleh daftar yang menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 4 di Asia .
Top 10 Confirm Asia
- India (10.827.314)
- Turkey (2.524.786)
- Iran (1.459.370)
- Indonesia (1.147.010)
- Israel (686.774)
- Iraq (627.416)
- Pakistan (554.474)
- Bangladesh (537.770)
- Philippines (535.521)
- Japan (401.355)
Selanjutnya berdasarkan sumber yang sama dilihat dari angka kesembuhan Indonesia menduduki posisi ke 7. Angka kesembuhan Indonesia walaupun di atas Malaysia tetapi belum berhasil mencapai angkla 90%.
Top 10 RECOVERY RATE
- Singapore (99,55%)
- Cambodia (95,78%)
- Brunei (95,58%)
- Philippines (91,21%)
- Laos (91,11%)
- Burma (90,04%)
- Indonesia (81,88%)
- Malaysia (78,32%)
- Vietnam (73,95%)
- Thailand (72,49%)
Weekly New case
Mengapa data mimgguan? Analisis data harian bersifat misleading karena pergerakan datanya cenderung bersifat fluktuatif atau gonjang-ganjing. Misleading artinya kita akan tersesat jika membuat interpretasi berdasarkan pergerakan data harian karena terjebak di kekinian dan kedisinian.Berikut ini adalah pengamatan penulis mengenai kasus baru berbasis data mingguan. Berdasarkan hasil pengolahan data kasus baru mingguan, Indonesia menduduki peringkat 1 Asia Kasus Baru Mingguan. Hasil pengolahan data selengkapnya dapat dilihat pada daftar di bawah ini:
- Indonesia (80.697)
- India (80.189)
- Turkey (53.885)
- Iran (47.639)
- Israel (46.794)
- Malaysia (29.060)
- United Arab Emirates (22.741)
- Lebanon (18.923)
- Japan (16.629)
- Philippines (12.005)
[Diolah dari: Data Repository by the Center for Systems Science and Engineering (CSSE) at Johns Hopkins University]
Mengamati data pada daftar di atas secara matematis memang Indonesia sekarang berada di rank 1 menggantikan India. Tetapi secara Statistis tidak ada perbedaan signifikan (kurang daripada 1%) antara India dan Indonesia . Jadi peringkat 1 Asia secara statistis diduduki oleh India dan Indonesia.aya
Terlepas dari masalah peringkat tersebut ada isu lain yang lebih menarik yaitu Indonesia minggu kemarin membuat penurunan yang nyaris signifikan.Ini hal yang lebih penting daripada masalah peringkat.
Bagaimana perilaku pergerakan kasus baru mingguan di Indonesia? Penulis telah mengamati selama 36 minggu dan terdapat hal menarik di mana pada perioda 7 November 2020 sampai 30 January 2021 terjadi kenaikan kasus baru mingguan secara terus menerus selama 13 minggu.

Hal mengejutkan terjadi pada minggu kemarin, sekali lagi, ada hal menarik. Mulai ada kejadian turun pada minggu ke 36 yaitu dari 31 January sampai dengan 06 February [lihat grafik]. Penulis ingin memberikan catatan penting mengenai fenomena penurunan ini.
APA PENYEBAB PENURUNAN ?
Sekali lagi, pergerakan kasus baru mingguan covid-19 di Indonesia terus naik mulai 7 november 2020 sampai 30 january 2021. Berdasarkan observasi dari minggu ke 35 tercatat angka kasus baru mingguan sebanyak 88.839 lalu turun ke angka 80.697. Penurunan ini secara statistis tergolong nyaris signifikan karena belum melampaui angka 10%.
Bagaimanapun juga ada hal menarik dan penting untuk dicermati lebih seksama dan mendalam. Ada kejadian turun setelah 13 minggu berturut-turut konsisten naik. Sangat penting untuk mengetahui apa penyebab penurunan minggu ini yaitu minggu ke 36 (perioda 31 Januari sampai dengan 6 Februari).
Root Cause Analysis
Penyebab penurunan harus dianalisis secara ilmiah tidak bisa dikira-kira secara serampangan. Kejadian minggu ke 36 bisa dilacak dari kejadian satu minggu atau 2 minggu ke belakang mengingat ada delay effect. Sekali lagi tidak mudah untuk mengetahui penyebab dari setiap fenomena.Penyebab hanya bisa dipastikan oleh riset ilmiah yang prominen. Pertanyaan risetnya adalah apakah penurunan bersifat sistematik atau random? Inilah isu krusial saat ini yang harus dijadikan agenda penting oleh pemerintah untuk bisa keluar dari jebakan program yang itu-itu saja
Tentu kita sangat berharap bahwa fenomena penurunan itu bersifat sistematik berpola. Jika hal ini yang terjadi maka kita harus tahu apa penyebab penurunan, dalam terminology Quality Control kita harus deteksi Assignable cause melalui serangkaian uji hipotesis. Penulis menyadari penuh, tidak bisa menemukan Assignable cause untuk random event. Penulis berpikir fenomena penurunan bukan karena 3M, 3T,PSBB,PPKM atau apapun istilah yang digunakan pemerintah. Ada hal yang lebih substansial daripada itu semua.Ini waktu yang tepat untuk mulai melakukan root cause analysis. Jika timing hal ini gagal disikapi dengan serius dan dijaga maka systematic cause dapat dengan mudah berubah menjadi peristiwa random yang sangat tidak diharapkan. Imajinasikan saja kita berhasil mengidentifikasi bahwa penurunan disebabkan oleh karena masyarakat percaya terhadap GHOST. Jadi pemerintah harus menjaga [maintain] dan mengkampanyekan bahwa GHOST benar-benar ada bahkan akan lebih menakutkan tahun ini. Artinya pemerintah akan punya program terobosaan GHOST yang menjanjikan untuk menyelesaikan pandemic secara gradual dan terkonfirmasi secara ilmiah.
Minggu ini merupakan kesempatan besar untuk mengupayakan supaya terus terjadi penurunan [sustainable] . If we know what causing it we can sustain it. Semoga kejadian penurunan ini tidak bersifat kebetulan atau random event, karena jika penurunan bersifat random maka kita tidak bisa mengerjakan dan berharap apa-apa selain minggu ini dan hari-hari berikutnya akan terjadi kenaikan lagi.
Kami tertarik dan menganggap krusial untuk menghentikan pergerakan Covid 19 melalui gerakan mengintip insiden penurunan bersifat nyaris signifikan [minggu kemarin] yang bisa kita kendalikan secara sustain. Mengapa karena sudah terbukti lewat pengalaman satu tahun ini, big program atau big method can not stop the Covid.Kami menilai insiden penurunan yang bersifat nyaris signifikan adalah berpotensi sistematik. Jadi kami takut dan khawatir kehilangan fitur sistematik ini dari kejadian penurunan minggu kemarin. Kami tidak ingin fitur sistematik penurunan ini berubah ke random event pada minggu ini dan minggu-minggu berikutnya.Di tengah-tengah gencarnya kampanye 3M-3T dan PPKM yang terbukti tidak bisa menolong menghentikan Covid setelah kita mengalaminya selama 1 tahun mengapa kita hanya terus bertumpu pada satu penedekatan ini ? Mungkin diyakini bahwa 3M-3T merupakanm konsep yang baik tapi pertanyaanya how can a good concept can not be executed? Mengapa kita meyakini sesuatu yang tidak dapat diimplementasikan dengan baik? Jika kita tidak dapat mengimplementasikan konsep 3M-3T selama 1 tahun ini mengapa kita masih terus mencoba melakukannya? Sudah 1 tahun!. Ini extraordinary. Terbukti bahwa kita tidak dapat mengimplementasikan konsep itu apapun alasanya. Bukankah broken plan should be identified and rectified in six months? Ini sudah satu tahun dan tidak ada hasil yang signifikan. Kita harus mencari alternatif strategi terobosan lain.ini situasi kritis.Tidak bisa terus bertumpu pada konsep yang tidak dapat diimplementasikan. Apa alternatifnya? Alternatifnya bersembunyi di balik fitur penurunan minggu kemarin, DI SITU. Kita jangan abaikan peluang besar untuk mengelola penurunan kasus Covid. Peluang besar tidak dating dua kali. Kesempatan besar minggu ini adalah mengetahui apa penyebab penurunan menggunakan identifikasi scientific. Kami berharap KSP dapat melakukannya, karena KSP memiliki kekayaan sumberdaya yang lebih baik dibanding kami untuk melakukan eksplorasi peluang besar penurunan ini. KSP harus melakukannya segera sebelum fitur sistematik berubah menjadi random lagi. Perlu upaya terobosan daripada terus menerus hanya bertumpu pada 3M-3T. JIka kita tidak bisa menemukan cara untuk mengimplementasikan 3M-3T secara proper mengapa kita bisa menemukannya sekarang?
Kita perlu lagu baru dan penyanyi yang baru dengan music yang baru pula.Semoga mengisnpirasi dan bermanfaat untuk solusi pandemic. Salaam.




