Ekonomi Hijau dan Tantangan Profesi Aktuaris Jadi Fokus Seminar Nasional Ilmu Aktuaria Unpad

     

Program Studi Ilmu Aktuaria Universitas Padjadjaran kembali menyelenggarakan Seminar Nasional Statistika Aktuaria (SNSA) IV 2025 dengan mengusung tema besar “Risiko Keuangan dalam Transisi Menuju Ekonomi Hijau”. Kegiatan yang berlangsung secara daring dengan menghadirkan dua narasumber ternama di bidang aktuaria, yaitu Nico Demus, S.Si, M.Sc. dan Handayani, S.Si, MM., MHP., HIA., FLMI., AFSI., AAK., AAIJ., AMRP., FSAI, Jatinangor,Sabtu, 28 Juni 2025.

Dalam seminar SNSA IV 2025 ini dekan Fakultas MIPA Unpad, Prof. Dr. Iman Rahayu, S.Si., M.Si. memberikan sambutan.  Prof. Dr. Iman Rahayu menyampaikan harapannya agar seminar ini menjadi awal dari sinergi antara akademisi, praktisi, dan pemangku kebijakan dalam mengintegrasikan aspek lingkungan dalam praktik aktuaria. Seminar SNSA IV ini dapat memberikan manfaat, menguatkan mahasiswa selain pembelajaran di dalam kampus, sebagai ajang  bertukar informasi dan dapat menambah wawasan bagi peserta seminar.

Ketua pelaksana SNSA IV 2025, Fajar Indrayatna,M.Si. mengucapkan rasa syukur dan terimakasih kepada semua pihak bahwa seminar ini dapat berlangsung dengan baik dan lancar.

Nico Demus, S.Si, M.Sc., seorang praktisi industri asuransi jiwa dan konsultan aktuaria senior, membuka sesi pertama dengan topik “Green Economy Application in Life Insurance Industry”. Dalam pemaparannya, Nico menjelaskan bagaimana prinsip ekonomi hijau mulai diterapkan dalam sektor asuransi jiwa, mulai dari kebijakan investasi berkelanjutan (sustainable investment), pengelolaan risiko iklim, hingga perubahan perilaku konsumen yang lebih sadar lingkungan.

“Industri asuransi tidak bisa lagi netral terhadap isu lingkungan. Asuransi jiwa harus mulai mengadopsi prinsip ESG Environmental, Social, Governance dalam penilaian risiko dan pengambilan keputusan bisnis,” tutur Nico.

Pembicara membahas mengenai program Green Economy ESG dan penerapannya dalam bisnis asuransi jiwa serta korporasi. Kualitas udara yang buruk di Jakarta menempatkan kota ini dalam 10 besar kota dengan kualitas udara terburuk dunia, menekankan pentingnya program Green Economy. ESG sendiri meliputi faktor Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola.

Dalam bisnis asuransi jiwa, implementasi ESG dilakukan melalui penempatan investasi pada instrumen berbasis ESG dan perlindungan asuransi kesehatan yang relevan dengan dampak perubahan iklim. Ditekankan pula mengenai analisis mortalitas tambahan bagi perokok dan dampaknya pada premi asuransi. Secara korporat, penerapan Green Economy dilakukan melalui penghematan energi, penerapan kebijakan work from home, penggunaan transportasi massal, serta digitalisasi dan paperless. Komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan meliputi pengelolaan dampak lingkungan dan tata kelola yang baik.

Materi kedua disampaikan oleh Dr. Handayani, akademisi dan peneliti di bidang ilmu aktuaria dan ekonomi berkelanjutan. Beliau membawakan topik bertajuk “Aktuaris dan Ekonomi Hijau” yang menyoroti pentingnya peran aktuaris dalam mendukung transformasi ekonomi hijau melalui analisis risiko jangka panjang dan perancangan produk keuangan berkelanjutan.

“Aktuaris kini tidak hanya dituntut ahli statistik dan keuangan, tetapi juga harus memahami dinamika lingkungan dan sosial yang mempengaruhi proyeksi risiko masa depan,” ujar Dr. Handayani.

Seminar ini dihadiri oleh mahasiswa, akademisi, dan praktisi dari berbagai universitas. Diskusi yang berlangsung interaktif memperkuat kesadaran bahwa ilmu aktuaria berperan penting dalam mewujudkan sistem ekonomi yang lebih hijau dan berkelanjutan.