FMIPA Unpad menyelenggarakan Celebrating Women in Mathematics 2025 untuk Mendukung Pilar ke-11 SDGs

Berkenaan dengan hari Kebangkitan Nasional 2025, Departemen Matematika bekerja sama dengan Pusat Studi Pemodelan dan Komputasi FMIPA Unpad serta IndoMS Wilayah Jawa Barat dan Jakarta menyelenggarakan Celebrating Women in Mathematics 2025. Kegiatan diisi dengan Webinar  on Application of Ethnomathematics and Ethno-informatics for Cultural Preservation in Indonesia, Case Study: Sundanese and Acehnese Culture. Kegiatan ini diselenggrakan untuk mendukung pilar ke-11  Sustainable Development Goals, yaitu Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, dengan fokus pada kegiatan mempromosikan dan menjaga warisan budaya dunia dan warisan alam dunia.

Kegiatan webinar dilaksanakan tanggal 22 Mei 2025 secara hybrid, menggunakan zoom meeting dan luring di Ruang Rapat Dekanat FMIPA Unpad, Gedung Otto Soemarwoto, Kampus Jatinangor. Acara ini merupakan bagian dari kegiatan Committee Women in Mathematics International Mathematical Union (CWM IMU) yang menggagas tanggal 12 Mei sebagai Celebrating Women in Mathematics untuk memperingati tanggal kelahiran Almarhumah Prof. Dr. Maryam Mirzakhani, matematikawati dari Iran sebagai perempuan pertama yang memperoleh Fields Medal suatu penghargaan bagi para matematikawan muda yang berprestasi di tingkat dunia. Prof. Maryam Mirzakhani memperoleh medali tahun 2014, namun tahun 2017 beliau wafat karena sakit.

Prof. Dr. Budi Nurani Ruchjana, MS sebagai Ambassador of CWM IMU for Indonesia dan Ketua Kelompok Bidang Keahlian Pemodelan Stokastik Departemen Matematika selaku ketua pelaksana webinar menyampaikan bahwa kegiatan ini rutin diadakan sejak tahun 2019 dengan agenda menguatkan peran perembuan dalam bidang matematika dan aplikasinya yang berdampak bagi masyarakat.  Untuk kegiatan tahun 2025, fokus pada penerapan Etnomatematika (Matematika berbasis budaya)  dan Etno-informatika (Teknologi Informasi berbasis budaya).

Prof. Dr. Novriana Sumarti  sebagai Ketua IndoMS Wilayah Jawa barat Banten dan Jakarta, sangat mengapresiasi partisipasi para peserta yang hadir dari seluruh wilayah Indonesia dengan 11 cabang IndoMS. Sedangkan Dr. Gumgum Darmawan, M.Sc. sebagai Kepala Pusat Studi Pemodelan dan Komputasi mewakili Dekan FMIPA Unpad membuka acara secara resmi.

Pembicara pada webinar adalah Dr. Salmawaty Arif, M.Sc., Dosen Departemen Matematika FMIPA Universitas Syiah Kuala Aceh yang menyajikan topik Simulasi Grafik Ornamen Tradisional Aceh menggunakan Geogebra. Sedangkan Prof. Dr. Budi Nurani Ruchjana, MS memaparkan materi Pemodelan Stokastik untuk Budaya di Tanah Sunda menggunakan SOWISO dan R.  Selanjutnya Prof. Dr. Atje Setiawan Abdullah, MS, M.Kom. dari Departemen Ilmu Komputer FMIPA Unpad menyajikan materi Etno-informatika untuk Deskripsi Perubahan Struktur Kata Antroponimi dalam 100 Tahun (1920-2019)  di Kabupaten Sumedang.

Para peserta webinar yang hadir luring 40 orang dan hadir daring sekitar 300 orang terdiri dari 70% perempuan dan 30% laki-laki. Sebagian besar peserta adalah mahasiswa baik tingkat sarjana, magister dan doktor serta para dosen dari berbagai perguruan tinggi mulai Aceh sampai Papua.  Berdasarkan diskusi dalam forum webinar diperoleh pengertian bahwa Etnomatematika yang diperkenalkan oleh Prof. Dr. D’Ambrosio yang memiliki kode 01A07 pada Mathematics Subject  Classification( MSC) 2020 dapat digunakan untuk metode pembelajaran berbasis budaya  atau untuk penerapan matematika dalam budaya sesuai kearifan lokal di suatu wilayah.

Dr. Salmawaty Arif, M.Sc. memaparkan tentang motif ornamen  tradisional Aceh yang dibangun menggunakan Geometri berdasarkan kajian budaya setempat. Motif pola dasar dinamakan Bungong Meulu berupa bunga melati. Dengan menggunakan Geogebra melalui website https://www.geogebra.org  diperoleh gambar dari persamaan dan fungsi, yang jika digambar berulang menghasilkan motif kain berbasis budaya setempat. Hasil penerapan Etnomatematika ini dapat menjadi cikal bakal untuk kegiatan wirausaha mahasiswa, karena motif yang dihasilkan dapat dicetak menjadi kain songket yang indah dan penuh makna.

Di sisi lain Prof. Dr. Budi Nurani Ruchjana, MS menyatakan bahwa Pemodelan Stokastik berbasis Etnomatematika memberikan penguatan dalam membangun model yang didasarkan pada budaya setempat, misalnya budaya nyawah di tanah Sunda yang diteliti melalui Etnografi dapat memperkaya pemahaman mahasiswa bagaimana prosedur menanam padi di Jawa Barat melalui 10 tahapan dari mulai “ngawuluku/membajak tanah sawah” sampai “panen”, sehingga menghasilkan data kuantitatif didukung data kualitatif. Untuk memodelkan budaya nyawah  dapat digunakan Analisis Regresi Linear atau Analisis Multivariat didukung dengan software R dan SOWISO yang merupakan platform Matematika Dasar dan Statistika Dasar  sebagai produk sowiso.com dari Amsterdam.

Materi terakhir disampaikan Prof. Dr. Atje Setiawan Abdullah, MS, M.Kom. tentang Penerapan Etno-informatika untuk Antroponimi atau penamaan orang, yang dibangun dengan pendekatan Spasial Data Mining menggunakan data penduduk yang lahir dalam kurun waktu 100 tahun (1920-2019), dan menghasilkan grafik penurunan serta peningkatan nama-nama orang Sunda, khususnya di wilayah Kabupaten Sumedang. Melalui Etno-informatika dapat dideskripsikan bahwa secara keseluruhan struktur Antroponimi di Kabupaten Sumedang masih didominasi dengan dua  kata (33,10%), namun untuk bayi yang lahir pada tahun  2019 struktur Antroponimi dengan 3  kata atau lebih meningkat (57, 91%). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Sumedang sudah mulai memberikan nama sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pencatatan Nama pada Dokumen Kependudukan pada pasal 4 (d) yang menyatakan bahwa  jumlah kata paling sedikit 2 (dua) kata.

Di akhir webinar, para peserta menerima sertifikat dan materi paparan. Panitia mengharapkan bahwa topik yang disajikan dapat bermanfaat bagi akademisi dan masyarakat pada umumnya, serta mendukung pelestarian budaya di Indonesia.

Penulis: Redaksi berita FMIPA Unpad