Inovasi Unpad dan Warga Desa Cihampelas : “Sulap Kandang Tradisional Jadi Model Ekonomi Kreatif Peternakan Ayam Petelur Cihampelas”.

6 Desember, 2025 – Upaya nyata dalam memberdayakan masyarakat berbasis ekonomi kreatif berhasil diwujudkan di Desa Cihampelas, berkat kolaborasi erat antara akademisi Universitas Padjadjaran (Unpad) dan masyarakat setempat. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dipimpin oleh Dr. Muhamad Deni Johansyah, Drs., M.M., dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unpad, sukses merevitalisasi pengelolaan ayam petelur, menjadikannya model bisnis berkelanjutan yang meningkatkan pendapatan warga.

Fokus utama dari program ini adalah mengubah paradigma peternakan tradisional menjadi praktik yang lebih higienis, terstruktur, dan berorientasi pasar. Selama ini, banyak peternak skala kecil di Cihampelas menghadapi kendala manajemen kandang yang buruk, yang berdampak langsung pada rendahnya produktivitas telur.

Model Kandang Percontohan dan Edukasi Langsung

Dr. Deni Johansyah menjelaskan bahwa langkah awal yang krusial adalah pembangunan kandang percontohan yang modern dan terpisah dari area sampah. “Kami menerapkan prinsip manajemen kandang yang sehat dan teknis peternakan yang tepat. Kandang yang dihasilkan kini jauh lebih higienis dan terbukti mendukung peningkatan kesehatan dan produktivitas ayam petelur,” ujarnya.

Pembangunan kandang percontohan ini tidak hanya bersifat fisik, namun juga melibatkan dosen, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unpad, dan masyarakat. Interaksi ini menciptakan sarana edukasi langsung, di mana warga diajarkan mulai dari teknik pemeliharaan, sanitasi, hingga pencatatan produksi harian. Konsep ini menjadikan kandang tersebut tidak hanya sebagai fasilitas, tetapi juga sebagai ‘sekolah lapangan’ bagi masyarakat.

Menggali Potensi Ekonomi Kreatif

Revitalisasi ini juga menyentuh aspek ekonomi kreatif. Selain fokus pada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi telur, tim Unpad mendorong warga untuk melihat peluang bisnis dari sisi hulu hingga hilir. Hal ini termasuk pengolahan limbah kotoran ayam menjadi pupuk organik yang bernilai jual, serta potensi diversifikasi produk turunan telur.

Pendekatan ini sejalan dengan tujuan program untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis peternakan rakyat, sebagaimana ditekankan dalam salah satu referensi studi, “Pengabdian Berbasis Peternakan untuk Ketahanan Pangan” oleh Iskandar dan Rosita. Dengan adopsi model peternakan skala rumah tangga yang dikembangkan, warga Desa Cihampelas kini memiliki fondasi yang kuat untuk mengembangkan usaha secara mandiri maupun menuju skala yang lebih besar.

Dampak Positif dan Keberlanjutan

Kerja sama dengan institusi mitra, seperti Bening Saguling Fondation, turut memperkuat aspek keberlanjutan program ini. Keberhasilan pembangunan kandang yang ramah lingkungan dan terstruktur ini diharapkan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain.

“Model ini membuktikan bahwa dengan sentuhan ilmu pengetahuan dan semangat partisipasi, peternakan ayam petelur skala kecil bisa menjadi pilar ekonomi kreatif yang signifikan bagi peningkatan pendapatan masyarakat, menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sekaligus menjamin ketersediaan pangan lokal yang berkualitas,” tutup Dr. Deni, seraya berharap proyek percontohan ini dapat terus dikembangkan menjadi pusat inkubasi bisnis peternakan di wilayah tersebut.