Mahasiswa FMIPA Unpad Kembangkan Biosensor untuk Deteksi Dini Tuberkulosis Resistan Rifampisin berbasis CRISPR-Cas9 Memanfaatkan Ampas Teh



Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang membutuhkan upaya deteksi secara cepat sebelum semakin parah, khususnya pada kasus TB resistan rifampisin/RR-TB. Berangkat dari permasalahan tersebut, mahasiswa Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Padjadjaran melalui tim Crispyceria mengembangkan biosensor elektrokimia berbasis CRISPR-Cas9 untuk mendeteksi mutasi pada gen rpoB sebagai penanda RR-TB.
Mutasi pada gen rpoB diketahui berhubungan dengan resistansi terhadap obat rifampisin sehingga gen ini menjadi salah satu target yang penting dalam pengembangan metode deteksi molekuler. Melalui penelitian ini, tim Crispyceria berupaya mengembangkan pendekatan deteksi yang menggabungkan teknologi CRISPR-Cas9 dengan biosensor elektrokimia dan nanoceria (nanopartikel CeO2). CRISPR-Cas9 digunakan untuk mengenali DNA target mutasi secara spesifik bahkan ketika terjadi perubahan satu basa nukleotida. Kehadiran target diubah menjadi sinyal listrik melalui sistem biosensor.
Menariknya, nanoceria yang digunakan sebagai material modifikasi elektrode diperoleh melalui metode green synthesis dengan memanfaatkan ekstrak ampas teh rumah tangga. Ekstrak ini dimanfaatkan sebagai sumber senyawa yang membantu proses sintesis nanopartikel sehingga pengembangan material tidak hanya berfokus pada peningkatan kinerja biosensor, tetapi juga mengangkat pendekatan yang lebih ramah lingkungan dalam sintesis Nanomaterial.
Di bawah bimbingan dosen pendamping Irkham, S.Si., M.Sc., Ph.D., tim yang beranggotakan Sinta Lidia Pratama, Annisa Anggita Maulana, Alayya Fatihatul Hasanah, Anggitha Salsabila Hidayat, dan Andini Okto Maharani berhasil mengembangkan teknologi biosensor dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi.
“Harapannya, penelitian ini dapat terus berkembang dan tidak berhenti pada tahap penelitian saja, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi teknologi deteksi yang lebih praktis dan dapat menjangkau masyarakat, khususnya di daerah yang memiliki keterbatasan akses terhadap deteksi dini TB resistan obat. Bagi kami, proses penelitian ini juga menjadi pengalaman berharga untuk belajar mengembangkan sebuah inovasi, mulai dari tahap awal hingga nantinya dapat memberikan manfaat yang lebih luas,” ujar Tim Crispyceria.
Sebagai bagian dari pengembangan tersebut, Tim Crispyceria melakukan pengujian terhadap kinerja biosensor elektrokimia yang dikembangkan, meliputi sensitivitas dan spesifisitas dalam mendeteksi DNA target. Hasil pengukuran tersebut ditampilkan pada poster berikut.

