Mengambil Peran dan Bertumbuh: Jeyd Mikail, Ketua HMTE Unpad 2026

Mengambil peran menjadi salah satu cara Jeyd Mikail Rabbani memaksimalkan masa kuliahnya di Universitas Padjadjaran. Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) angkatan 2024 tersebut aktif terlibat dalam organisasi, kepanitiaan, dan berbagai kegiatan kemahasiswaan untuk mengeksplorasi pengalaman di luar ruang kelas sekaligus berkontribusi dan memberikan dampak bagi lingkungan sekitarnya. Berbagai proses yang dijalaninya membuka banyak kesempatan yang membawa Jeyd Mikail Rabbani hingga mengemban amanah sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro (HMTE) Unpad 2026.

Memaksimalkan Masa Kuliah

Sebelum dipercaya memimpin himpunan, Jeyd telah aktif di berbagai organisasi dan kepanitiaan kampus. Ia pernah menjadi staf Senbora BEM FMIPA dan BEM Kema Unpad, Wakil Ketua Divisi Acara Magneto 2025, Project Supervisor Big Force Festival, hingga Project Officer ESPORA dan AsthaSakra. Selain aktif berorganisasi, Jeyd turut mengukir berbagai prestasi, mulai dari 1st Runner Up Putra MIPA 2025 hingga berbagai kejuaraan di bidang seni dan olahraga.
Seiring berjalannya waktu, keterlibatan tersebut membuatnya bertemu banyak orang dengan latar belakang yang beragam dan memperluas perspektifnya. Dari sana, keinginannya untuk memaksimalkan masa kuliah berkembang menjadi motivasi untuk terus mengambil peran dan memberikan dampak positif melalui berbagai kegiatan yang dijalani.

“Sibuk Itu Bukan Prestasi”

Di tengah kesibukannya, Jeyd menghadapi berbagai tantangan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Baginya, bagian yang paling menguras energi bukanlah rapat yang panjang atau jadwal yang padat, melainkan beban mental untuk tetap tenang ketika harus mengelola banyak tanggung jawab sekaligus.
Ia pernah berada pada titik lelah dan kehilangan motivasi. Namun, komitmen terhadap tanggung jawab yang telah diambil membuatnya memilih untuk tetap menyelesaikan setiap amanah yang diberikan. Jeyd juga menyadari bahwa kesibukan tidak selalu berarti seseorang sedang berkembang. Menurutnya, banyak mahasiswa yang terlalu fokus mengejar produktivitas hingga melupakan hal-hal yang tidak kalah penting.
“Sibuk itu bukan prestasi. Sering kali kita mengejar banyak hal sampai lupa istirahat, menjaga kesehatan mental, atau sekadar meluangkan waktu untuk orang-orang terdekat” ujarnya.
Kesadaran tersebut membuatnya semakin memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara tanggung jawab, kesehatan mental, dan kehidupan pribadi selama menjalani masa kuliah.

Ketika Peran Menjadi Ruang untuk Berkontribusi

Setiap peran tidak hanya menjadi kesempatan untuk belajar, tetapi juga ruang untuk memberikan kontribusi. Salah satu bentuknya Jeyd tunjukkan saat mengikuti ajang Putra Putri FMIPA 2025.
Melalui ajang tersebut, Jeyd membawa advokasi #YourStoryMatters yang berfokus pada pentingnya kesehatan mental dan ruang aman bagi mahasiswa untuk berbagi cerita.
“Kesehatan mental bukan pelengkap, tapi fondasi supaya kita bisa terus melangkah” ujar Jeyd.
Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki ruang yang aman untuk mencari dukungan dan menjaga keseimbangan diri di tengah berbagai tekanan selama masa perkuliahan. Advokasi yang ia bawa juga menunjukkan perhatian terhadap isu kesehatan mental dan kesejahteraan mahasiswa, yang selaras dengan SDGs 3, Good Health and Well-Being.
Semangat berkontribusi itu juga terlihat dari keterlibatannya sebagai pemateri di berbagai forum kampus, mulai dari leadership summit HMPSI hingga pelatihan public speaking untuk Putra Putri Himaktu. Melalui berbagai peran yang dijalaninya, Jeyd tidak hanya belajar, tetapi juga mendorong perhatian terhadap isu yang ia anggap penting bagi mahasiswa.

Candradimuka, Himpunan sebagai Ruang Bertumbuh

Keterlibatannya dalam organisasi dan berbagai kegiatan kemahasiswaan selama berkuliah turut membentuk cara berpikir dan kepemimpinan Jeyd hingga saat ini. Kepercayaan untuk mengemban amanah sebagai Ketua HMTE Unpad 2026 pun menjadi bagian dari proses yang ia jalani.
Jeyd ingin menjadikan HMTE sebagai ekosistem pengembangan diri yang suportif.
Gagasan tersebut tercermin dalam nama Kabinet Candradimuka yang dimaknai sebagai wadah penempaan bagi setiap fungsionaris. Pembagian peran yang jelas menjadi salah satu fokus utama dalam kepengurusan. Budaya kerja yang terbuka dan transparan turut mendukung proses tersebut. Selain itu, anggota memperoleh ruang aman untuk belajar, bereksperimen, dan bertumbuh.
“Organisasi bisa jadi ruang tumbuh jika kita mulai mengutamakan pengembangan internal dibanding hanya mengejar target program kerja” ungkap Jeyd.
Menurut Jeyd, organisasi tidak hanya menjadi tempat menjalankan program kerja. Organisasi juga dapat menjadi wadah untuk memperoleh pengalaman dan mengembangkan keterampilan yang melengkapi proses pembelajaran selama masa kuliah.

Mengambil Peran: Makna bagi Jeyd

Selama berkuliah, Jeyd memaknai berbagai peran sebagai kesempatan untuk belajar, menghadapi tantangan, dan bertumbuh.
Ia juga memahami bahwa setiap orang memiliki proses dan ritmenya masing-masing. Karena itu, mahasiswa tidak perlu merasa tertinggal hanya karena belum memiliki pengalaman yang sama dengan orang lain.
“Semua punya timeline masing-masing. Jangan membandingkan prosesmu dengan capaian orang lain karena setiap orang punya ritme dan garis start yang berbeda” ujarnya.
Apa yang dijalani Jeyd selama berkuliah berawal dari keinginan sederhana untuk memaksimalkan waktunya sebagai mahasiswa. Dari setiap kesempatan yang datang, ia tidak hanya memperoleh pengalaman baru, tetapi juga pelajaran tentang tanggung jawab, kepemimpinan, dan kontribusi di lingkungan sekitarnya.
Pengalaman tersebut juga membuat Jeyd memahami pentingnya memimpin diri sendiri sebelum mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Bagi Jeyd, mengambil peran tidak harus selalu hadir melalui jabatan atau organisasi formal. Seseorang dapat memulainya dari hal-hal kecil tanpa harus memikul tanggung jawab besar sejak awal.

Penulis:
Abel Zahran
210310250032