
[fmipa.unpad] Universitas Padjadjaran mengukuhkan enam Guru Besar baru dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Padjadjaran. Acara berlangsung di Graha Sanusi Hardjadinata Unpad Kampus Iwa Koesoemasoemantri, Jl. Dipati Ukur No. 35 Bandung pada Selasa, 22 Juli 2025. Pengukuhan yang diisi dengan paparan keilmuan dari masing-masing Guru Besar tersebut dibuka oleh Ketua Senat Akademik Unpad Prof. Ganjar Kurnia, dan dipimpin oleh Ketua Dewan Profesor Unpad, Prof. Arief Anshory Yusuf.
Enam Guru Besar tersebut adalah Prof. Dikdik Kurnia, S.Si., M.Sc., Ph.D., Prof. Dr. Nursanti Anggriani, S.Si., M.Si., Prof. Dr. Drs. Togar Saragi, M.Si., Prof. Dr. Darmawan Hidayat, S.Si., MT., Prof. Dr. Diana Rakhmawaty Eddy, S.Si., M.Si., dan Prof. Dr. Budi Irawan, S.Si., M.Si dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unpad.


Guru Besar bidang Kimia Organik, Prof. Dikdik Kurnia, menyampaikan paparan keilmuan berjudul “Kimia Organik & Pengembangan Agen Antimikroba Patogen Oral”. Prof. Dikdik menjelaskan bahwa dalam banyak kasus infeksi gigi dan mulut, mikroba membentuk biofilm sebagai sehingga kebal terhadap pengobatan yang dikendalikan oleh sistem Quorum Sensing (QS). Infeksi yang berkepanjangan juga menimbulkan inflamasi kronis sehingga tubuh membutuhkan antioksidan dan antiinflamasi untuk menangkal radikal bebas yang berlebihan.
“Berdasarkan hasil penelitian maka diusulkan kategori obat antimikroba untuk patogen oral, yaitu obat kategori 1 adalah kombinasi senyawa anti-quorum sensing dan anti-biofilm, obat kategori 2 adalah kombinasi antimikroba dan antioksidan untuk menghambat mikroba sekaligus meredakan stres oksidatif, dan obat kategori 3 adalah kombinasi senyawa antimikroba dan antioksidan kuat yang mampu menembus jaringan dalam serta mengendalikan inflamasi dan infeksi secara menyeluruh,” ujar Prof. Dikdik.
Guru Besar bidang Matematika Terapan, Prof. Nursanti Anggriani, menyampaikan paparan keilmuan yang berjudul “Menjembatani Teori Matematikan dan Epidemiologi: Pendekatan Sistem Dinamik Sebagai Solusi Integratif”. Prof. Nursanti menjelaskan bahwa matematika terapan saat ini telah berkembang menjadi fondasi strategis yang menopang berbagai inovasi lintas sektor, salah satunya adalah pada bidang kesehatan yang berperan penting dalam memodelkan dinamika penularan penyakit menular, memprediksi tren penyebaran, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis data epidemiologi.
“Model matematika harus dibangun dari pemahaman terhadap masalah nyata dan terbuka untuk kolaborasi lintas disiplin. Dua hal penting, yaitu teori lahir dari ruang imajinasi dan abstraksi yang tidak boleh dibatasi oleh sistem pembelajaran dan pembelajaran matematika harus berakar pada realitas kehidupan. Dengan demikian, matematika berperan sebagai pilar integratif dari teori, aplikasi, dan kolaborasi demi menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat,” kata Prof. Nursanti.
Guru Besar bidang Fisika Magnetik, Prof. Togar Saragi, menyampaikan paparan keilmuan berjudul “Superparamagnet: Merajut Nanopartikel Magnetik untuk Aplikasi Medis dan Remediasi Lingkungan”. Prof. Togar menjelaskan bahwa material magnetik berbasis Fe yang paling banyak diteliti adalah Fe3O4 (magnetite), tetapi senyawa ini bersifat oksidatif dan mudah mengalami penggumpalan sehingga diperlukan proses modifikasi permukaan dan enkapsulasi.
“Surfaktan yang dipilih adalah silikon dioksida (SiO2) dan asam oleat. Sedangkan enkapsulator digunakan polietilen glikol (PEG) dan AGAR sebagai sumber protein target terduga. Modifikasi permukaan nanopartikel Fe₃ O₄ dapat menyesuaikan sifat dengan tetap mempertahankan perilaku superparamagnetik sebagai sifat penting untuk aplikasi serta penurunan waktu relaksasi,” ujar Prof. Togar.
Guru Besar bidang Rekayasa Material dan Sensor Ultrasonik, Prof. Darmawan Hidayat, menyampaikan paparan keilmuan berjudul “Pengembangan Teknologi Berbasis Gelombang Ultrasonik melalui Rekayasa Bahan Fungsional”. Prof. Darmawan menjelaskan bahwa potensi kebutuhan teknologi gelombang ultrasonik di Indonesia cukup besar, tetapi Indonesia belum memiliki industri yang fokus dalam pengembangan dan produksi teknologi-teknologi berbasis gelombang ultrasonik. Ada dua kunci utama rekayasa untuk menguasai pengembangan teknologi berbasis gelombang ultrasonik, yaitu rekayasa material fungsional dan rekayasa sistem elektronika, meliputi rekayasa sistem pulser-receiver dan rekayasa sistem instrumentasi akuisisi data.
“Dua kunci untuk menguasai teknologi ini adalah rekayasa material dan rekayasa elektronika sehingga dapat mengurangi ketergantungan produk impor. Pengembangan teknologi ultrasonik di Unpad khususnya juga diperlukan dalam kegiatan riset dan hilirisasi riset antardisiplin keilmuan. Oleh karena itu, sebagai rekomendasi, akselerasi institusi dan pertimbangan bagi Unpad membuka prodi-prodi keteknikan terkait untuk akselerasi pengembangan teknologi dan hilirisasi riset,” jelas Prof. Darmawan.
Guru Besar Bidang Material Anorganik Fotokatalitik, Prof. Diana Rakhmawaty Eddy, menyampaikan paparan keilmuan yang berjudul “Perkembangan Fotokatalis sebagai Material Multifungsional”. Prof. Diana menjelaskan bahwa fotokatalisis digunakan sebagai proses alternatif untuk mendegradasi polutan organik pada air limbah menjadi senyawa sederhana berupa CO2 dan H2O yang lebih aman dilepaskan ke lingkungan. Sementara itu, dalam proses self-cleaning fotokatalis dapat mendegradasi polutan organik yang mengalami kontak langsung dengan permukaan material terlapis.
“Material fotokatalis memiliki banyak keunggulan dan dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang kehidupan. Meski begitu, inovasi dalam pengembangannya masih perlu dilakukan untuk mencari metode sintesis terbaik dan meningkatkan aktivitas fotokatalitiknya. Pengembangan material ini ke depannya diharapkan dapat ditingkatkan untuk menghasilkan barang komersil yang dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan masyarakat,” kata Prof. Diana.
Guru Besar bidang Ilmu Etnobotani dan Biosistematika Tumbuhan, Prof. Budi Irawan, menyampaikan paparan keilmuan yang berjudul “Menjaga Warisan Hayati: Peran Etnobotani dan Biosistematika dalam Konservasi Biodiversitas Indonesia”. Prof. Budi menjelaskan bahwa biodiversitas bukan sekedar sumber daya alam saja, tetapi merupakan warisan hayati yang menyimpan identitas budaya dan keberlanjutan ekologi. Untuk menjaga pengetahuan lokal perlu mengkaji melalui disiplin Etnobotani dan Biosistematika. Etnobotani mempelajari hubungan manusia dengan alam sekitarnya termasuk pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat.
“Etnobotani dan biosistematika merupakan bagian yang tidak terpisahkan, keduanya saling melengkapi. Pengetahuan tradisional, dokumentasi nama lokal, pemanfaatan tradisional dan identifikasi ilmiah memperkuat pelestarian berbasis masyarakat. Biodiversitas tidak hanya dimanfaatkan saat ini, tetapi sebagai warisan hayati yang dimanfaatkan juga untuk anak cucu kita di masa yang akan datang,” jelas Prof. Budi.*






