Permainan Tradisional Bagai Cahaya yang Kian Meredup

Mungkin sudah tak asing lagi bagi anda ketika mendengar Hand Phone, tablet,  laptop, dan berbagai perangkat canggih lainnya. Peralatan tersebut tidak hanya mudah dioperasikan, namun juga memiliki konten-konten aplikasi yang menarik dan simple. Namun apa jadinya apabila pemakai gadget tersebut adalah kalangan anak-anak yang masih duduk di bangku SD, TK, atau bahkan masih berusia kurang dari tiga tahun? Bahkan tidak jarang mereka lebih mahir menggunakan gadget daripada orang tua mereka sendiri.

Fenomena itulah yang beberapa tahun belakangan ini sedang banyak terjadi. Kemajuan teknologi di Indonesia membawa pengaruh baik dan kurang baik terhadap berbagai kalangan masyarakat, salah satunya terhadap anak-anak. Adanya permainan berbau teknologi yang menawarkan kepraktisan dan jenisnya yang beragam menjadi daya tarik bagi anak-anak untuk lebih memilih memainkannya dibandingkan dengan bermain permainan tradisional yang dilakukan masyarakat etnis sunda, seperti bebentengan, rorodaan, dam-daman, sondah, congklak, egrang, sasalimpetan, maupun permainan tradisional lainnya yang semakin meredup. Padahal, permainan tradisional banyak mengajarkan ilmu-ilmu kehidupan, seperti kerjasama, kepemimpinan, saling menghargai, kejujuran, kesabaran, dan kemandirian. Berbeda dengan permainan teknologi yang dapat menjadikan seorang anak lebih individualis dan kurang bergerak aktif.

Sebagai salah satu antisipasi dalam menghadapi terkikisnya permainan tradisional, Tim Kelompok PKM-M (Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat) FMIPA yang diketuai oleh Annisa Amalia (Biologi) dengan anggota Tria Karina (Biologi), M. Nur Khawarizmi (Fisika) dan Angga Apriansyah (Fisika) dibawah bimbingan Budi Irawan, S.Si., M.Si., mencoba memfasilitasi siswa di SDN Cikeruh 1, Jatinangor untuk bermain sejumlah permainan tradisional. Mengingat ada 250 jenis permainan tradisional di jawa barat (Data Perhitungan Komunitas HONG), maka kami mencoba mengenalkan dan mengingatkan kembali beberapa permainan pada para siswa. Kegiatan ini merupakan salah satu wujud kreatifitas mahasiswa yang mendapat dukungan dari DIKTI, dalam program PKM-M berjudul “Saung Ulin Cangkurileng: Wahana Bermain dan Belajar Melalui Permaian Tradisional Sunda Untuk Siswa SDN Cikeruh Kecamatan Jatinangor Sebagai Upaya Efektif Melestarikan dan Mencegah Erosi Budaya Sunda”.

Pada Kegiatan ini siswa maupun guru sama-sama berperan untuk mewariskan dan memelihara permainan-permainan tradisional. Para guru diberikan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan permainan tradisional, sekaligus makna dari setiap permainan. Sedangkan para siswa diajarkan beberapa macam permainan, di antaranya, congklak, dam-daman, egrang, rorodaan, sasalimpetan, sondah, bebentengan, bancakan, dan jejengkolan. Hal yang sedikit mengejutkan  adalah ketika Tim PKMM bertanya pada beberapa siswa, dan mereka mengaku tidak tahu mengenai permainan bebentengan/galah asin/gobak sodor, damdaman, dan sasalimpetan.

Tidak hanya sekedar bermain, para siswa pun dikenalkan esensi dari setiap permainan. Hal ini bertujuan agar para siswa mampu mengambil pelajaran dari setiap permainan dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kami juga mengadakan perlombaan permainan tradisional, para siswa laki-laki menggunakan pakaian pangsi beserta ikat kepala, sedangkan siswa perempuan yang memenangkan perlombaan mendapatkan hadiah kebaya. Pangsi, ikat kepala, dan kebaya merupakan salah satu ciri busana khas jawa barat, sehingga dirasa perlu untuk mengenalkan pada para siswa.

Pa-Budi

Foto Beberapa kegiatan PKMM Saung Ulin Cangkurileng

Besar harapan kami bahwa mereka dapat menjadi generasi yang dapat mewarisi permainan-permainan tradisional kepada anak-anak lainnya. Oleh karena itu, sebagai salah satu bentuk apresiasi, kami memberikan sejumlah alat permainan kepada pihak SDN Cikeruh 1 agar dapat digunakan oleh para siswa. Semoga ini dapat menjadi awal berkembangnya kembali permainan tradisional Jawa Barat. Selamat berjuang pejuang-pejuang cilik!

 

@Budi I.