Prediksi Kasus Covid-19 Yuyun Hidayat ke 24 kalinya Akurat

GODAAN LIBUR PANJANG MERUNTUHKAN KETAATAN MASYARAKAT

TERHADAP PROTOKOL KESEHATAN

Oleh :Yuyun Hidayat, PhD

[email protected]

Epidemiolog dari Griffith University, Australia Dicky Budiman mengatakan, landai atau tidaknya kurva pandemi bisa dilihat dari dua indikator, yakni angka kematian dan angka kasus baru harian.[https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/22/103932265/kasus-terus-naik-sudah-optimalkah-usaha-indonesia-kendalikan-virus-corona?page=all]. Selanjutnya , Jakarta, CNN Indonesia –melaporkan  Kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia per Kamis (12/11) bertambah 4.173 konfirmasi baru. Dengan demikian, akumulasi kasus positif Covid-19 di Indonesia sejak yang pertama diungkap awal Maret lalu kini mencapai 452.291. JAKARTA, KOMPAS.com – Penularan virus corona hingga saat ini, Kamis (12/11/2020), masih terus terjadi di masyarakat. Hal ini terlihat dengan masih bertambahnya kasus Covid-19, berdasarkan data yang masuk hingga pukul 12.00 WIB, Kamis. Data pemerintah memperlihatkan bahwa ada 4.173 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 452.291 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020.

Paparan di atas ingin menunjukkan sampel dari banyak pendapat yang menganalisis dan cenderung manarik kesimpulan perilaku penularan berdasarkan data kasus baru dalam perioda observasi harian. Pada 2 minggu lalu banyak pihak berpendapat bahwa telah terjadi kenaikan kasus harian.

Daily Data Is Misleading

Analisis data harian bersifat misleading karena pergerakan datanya cenderung bersifat fluktuatif atau gonjang-ganjing. Misleading artinya kita akan tersesat jika membuat interpretasi berdasarkan pergerakan data harian karena terjebak di kekinian dan kedisinian. Sebagai contoh berdasarkan data kasus baru harian pada minggu ke 33  yaitu tanggal 11- 17 Oktober,  terjadi tren kenaikan pada data kasus baru harian, yaitu berturut-turut 3.267, 3.906, 4.127, 4.411, 4.301, 4.301. Padahal ketika diamati mulai dari titik pengamatan minggu ke 32 [4-10 Oktober], hal yang sangat berbeda justru terjadi . Terlihat bahwa data kasus baru mingguan malahan mengalami penurunan dalam 4 minggu berturut-turut terhitung sejak minggu ke 32 sebanyak 29.446 kasus baru  dan menurun mulai pada minggu ke-33 [11 –  17 Oktober] sebanyak 28.810 , minggu ke-34 [18 –  24 Oktober]sebanyak 28.218, minggu ke-35 [25 –  31 Oktober] sebanyak 24.108, minggu ke-36 [1-7 November] sebanyak 23.748 kasus baru dan berujung tidak happy ending  karena terjadi kenaikan lagi pada minggu lalu yaitu minggu ke-37 [ 8– 14 November] sebanyak 29.171 sebagai resultan dari lonjakan kasus baru yang tembus angka 5000  yaitu 5.444 dan 5.272 pada tanggal 13 dan 14 november di minggu ke-37. Fakta ini juga saya sajikan dalam grafik di bawah ini.

 

Weekly data: regress daily uncertainty into week certainty

Pemilihan perioda observasi mingguan merupakan upaya untuk mengatasi diantaranya ketidakpastian kinerja 442 laboratoria pemeriksa Covid-19 yang tersebar di seluruh Provinsi [https://www.litbang.kemkes.go.id/laboratorium-pemeriksa-covid-19/, Update tanggal 11 November 2020]. Data kasus harian sangat bertumpu pada kinerja Lab. yang kinerjanya juga bervariasi antar provinsi. Kemenkes mengeklaim performa laboratorium pemeriksa spesimen orang yang diduga terinfeksi Covid-19 belum maksimal. Pemeriksaan spesimen yang belum maksimal itu karena jam kerja lab yang hanya enam jam sehari. Kemudian, keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan logistik. Selain itu, ada beberapa lab yang libur pada hari Ahad [Kepala Balitbangkes- Kemenkes, Prof Abdul Kadir,https://www.republika.id/posts/7560/kinerja-laboratorium-belum-maksimal]. Tes Covid-19 di Indonesia Masih Jauh dari Standar WHO.Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menjelaskan standar yang ditetapkan WHO adalah 1:1000 penduduk per minggunya, artinya pemerintah harus mampu memeriksa 267.700 orang per minggu dari total 267.700.000 populasi Indonesia. “Pada saat ini indonesia baru mencapai 46,85 persen dari standar WHO tersebut,” [http://www.ayobekasi.net/read/2020/08/31/7053/tes-covid-19-di-indonesia-masih-jauh-dari-standar-who]. Tidak mengherankan data harian bersifat sangat fluktuatif dan eratik sehingga disimpulkan terlalu banyak ketidakpastian pada data kasus Covid-19 harian. Permasalahan ketidakpastian kinerja Lab. Ini jelas diakui oleh Jubir satgas Covid-19 Prof.Wiku adisasmito, yang memberikan keterangan terkait kejadian dua hari berturut-turut  Corona di RI menembus angka 5000 kasus baru-baru ini. Beliau menjelaskan bahwa libur panjang Maulid Nabi Muhammad SAW telah mengakibatkan  leterlambatan pelaporan sampel. Keterlambatan pelaporan menyisakan sejumlah kasus menumpuk dan dilaporklan pada dua hari terakhir. Bahwa selama libur panjang terlihat jumlah kasus menurun  begitu juga laporan tentang pemeriksaan kasus sampel juga menurun sehingga terjadi lonjakan kasus signifikan pada dua hari terakhir.

Ketidakpastian ini dapat dieliminasi dengan mengagregasi data harian ke dalam minggu sehingga kadar kepastian dalam data mingguan lebih besar. Oleh karena itu data mingguan sudah lebih stabil dan bisa lebih reliabel  daripada data harian yang tidak beraturan. Ketika  data diobservasi dalam perioda mingguan maka pola pergerakan data akan lebih terlihat karena data sudah mengalami pematangan.

Statistika sebagai Tools

Statistika dalam pemikiran saya adalah seperti suatu lensa dari sebuah kamera. Kita harus memlih zoom yang tepat sedemikikan rupa sehingga kita dapat menginterpretasikan objek kajian secara proper. Tidak ada aturan yang jelas untuk memperoleh the best zoom, semua upaya yang harus dilakukan adalah melakukan trial and error untuk memperoleh the best zoom. Penetapan perioda observasi untuk mengkaji kasus Covid-19 di Indonesia merupakan bagian dari upaya trial and error ini. Melihat bentuk gunung tentu harus dari kejauhan sebab dalam jarak dekat kita tidak bisa melibhat pola gunung tersebut.Dalam hal ini zooming yang tepat atau perubahan lensa yg cocok akan berpengaruh dalam kelihat kejelasan objek. Selama terelihat buram kita akan terus memutar lensa sampai diperoleh objek yang jelas. Bagi saya lensa dalam skala mingguan bisa lebih melihat dengan jelas pergerakan data kasus covid. Perioda observasi harian beranalogi dengan melihat gunung dari jarak dekat sehingga kita kehilangan orientasi karena terjebak variasi yang ada di depan mata. Demikian pula kita tidak bisa melihat bentuk pulau dari jarak dekat [data harian] tapi kita bisa melihat bentuknya dari atas dalam jarak yang tepat. Melalui zooming mingguan atau data smoothing dalam istilah statistik, pola pergerakan kasus Covid-19 dapat dikenali lebih baik. Kejelasan data mingguan dalam analisis data Covid-19 sudah terbukti berdasarkan pengalaman saya dalam melakukan prediksi kasus ini, 24 kali berturut-turut akurat.

Interpretasi : Terima kasih masyarakat Indonesia kasus baru turun 4 minggu berurutan-kaji ulang week end bulan Desember

Menurut pemikiran saya adalah keliru besar bahwa terjadi kenaikan pada kasus harian selama minggu ke 33 sampai dengan minggu ke 36. Hal yang benar adalah kita harus memuji masyarakat karena sudah mulai menunjukkan perubahan ke arah adaptasi kebiasaan baru. Hal ini ditunjukkan oleh mulai ada fenomena penurunan kasus baru pada data mingguan selama 4 minggu berturut-turut. Ini prestasi yang sepi penghargaan. Selama ini terlalu banyak pemberitaan yang menggaungkan ketidaktaatan masyarakat terhadap protocol kesehatan tidak diimbangi aspek pujian kepada masyarakat yang telah dengan sabar dan kesadaran untuk beremphati dan berjuang memutus rantai penularan Covid-19. fakta yang memperkuat interpretasi ini sudah dipaparkan di atas serta grafik yang menggambarkan penurunan kasus baru selama 4 minggu berturut-turut.

Kasus baru meningkat lagi pada minggu ke 37, minggu lalu [8-14 November], peningkatan ini menurut interpretasi saya adalah disebabkan oleh delay effect  dari peristiwa libur panjang. Delay effect dalam konteks ini adalah lonjakan tajam berupa kasus harian yang menembus angka 5000 selama 2 hari berurutan diduga kuat disebabkan oleh masa inkubasi.Sebagaimana diketahui peristiwa long week end adalah 2 minggu yang lalu. Jadi the long week end telah menyebabkan jumlah orang yang terkena infeksi lebih banyak. Pernyataan Satgas yang menunjukk kinerja Lab sebagai kambing hitam  menurut saya karena Satgas tidak ingin disalahkan atas ketidakmampuannya mengendalikan infeksi selama the long week end. Sebagai penutup : the decreasing new case was genuine, but the temptation of long week end was too high.So people broke the protocol. That is the interpretation of the data.